28 September 2024.
Pelajaran menulis biasanya disampaikan sama penulis. Namun, kali ini pelajaran menulis disampaikan dari sudut pandang editor asal Jepang yang bernama Arai Hisayuki. Dirinya merupakan penyunting novel dari penulis Yonezawa Honobu. Arai Hisayuki rupanya udah sekitar 30-an tahun menjadi editor, bahkan ia pernah beberapa kali jadi juri lomba cerita misteri, fantasi.
Daftar Isi
I. Introduksi
First, di dunia penulisan itu nggak ada yang namanya benar dan salah. Bahkan, pekerjaan penulis dan editor tuh nggak ada sertifikasinya. Maka dari itu, yang bisa penulis dan editor lakukan adalah mengumpulkan pengalaman.
Pengalaman ini bisa didapetin dari hobi alias hal-hal kesukaan yang biasa dilakuin pas waktu luang. Arai-sensei bahkan bilang kalau editor yang punya banyak hobi bikin perspektifnya jadi makin luas. Efeknya, editor jadi bisa lancar ngobrol dengan para penulis tentang topik yang berpotensi diangkat jadi novel. Makanya, kita nggak disarankan untuk bilang “enggak suka” duluan sama sesuatu. Cicipin dulu, deh.
But, Arai-sensei bilang kalau hobi yang banyak tuh enggak cukup. Punyailah hobi seperti huruf T, dalam artian ada satu hobi yang kita mahir di dalamnya. Bahkan, lebih bagus lagi kalau berbentuk huruf M alias banyak hobi yang kita mahirin.
Terus, waktu kita baca sebuah karya, Arai-sensei nyaranin kita untuk tidak berhenti pada penilaian “cerita ini menarik” atau “cerita ini jelek”. Be criticize. Dia bilang kalau kita perlu untuk menemukan alasan mengapa cerita tersebut menarik/jelek. Gali lebih dalam. Kita bisa banget bertanya-tanya sebagai penulis: “kalau kita bikin cerita seperti itu, apa yang mau saya perbaiki?”, begitu juga sebagai editor: “kalau saya editornya, saran apa yang akan saya berikan?”
Hingga sampailah di pertanyaan: “Apa yang harus saya tulis supaya laku?” Arai-sensei bilang bahwa dirinya nggak tahu. Jika ia tahu, ia sudah menuliskannya, katanya sambil terkekeh. Di sini, Arai-sensei ngasih nasihat kalau menulis tuh jangan semata-mata ngikutin tren karena tren tuh bakalan usang. Misalnya, kita nulis tentang topik yang lagi tren, eh waktu udah terbit, udah nggak ngetren lagi. Atau udah berusaha ikut tren sana-sini, eh ternyata malah nggak laku. Kecewa, kan? Makanya, Arai-sensei bilang kalau menulis karya tuh nggak cuma tentang mikirin pembaca maunya apa, tapi juga passion dari sang penulis.
II. Yang Harus diperhatikan Saat Menulis
Penulis tuh sering punya kekhawatiran, “ini gagasanku udah tersampaikan dengan baik belum ya ke pembaca?” Efeknya, penulis jadi ngejelasain kelewat panjang. Satu hal yang harus dipahami adalah bahwa sesuatu tuh nggak akan pernah bisa sampai 100% kepada pembaca, soalnya manusia punya pemikirannya masing-masing.
“Pelajaran yang paling saya ingat dari kepala editor saya dahulu adalah bahwa paragraf yang baik akan semakin baik jika dikurangi. Tentu ada pengecualian, tapi itu benar.”
Terus kalau dikurangi bukannya jadi nggak jelas, ya? Justru malah nggak papa! Dengan meninggalkan sebuah ruang kosong pada paragraf, pembaca tuh jadi bertanya-tanya alias kepo untuk mengenal karakter. Dari situ, pembaca jadi terhubung deh sama naskah kita! Sama halnya saat kita berkomunikasi sehari-hari, tentu kita akan males ndengerin temen kita yang nggak berhenti-henti ngomong, bukan?
Show don’t tell. Mungkin ini adalah nasihat yang udah sangat-sangat sering banget disampaikan di kelas-kelas menulis. Lewat teknik show, penulis menjelaskan kejadiannya daripada pernyataan singkat. Misalnya, penulis yang sedang njelasin seseorang yang lagi bersedih tanpa kata “sedih”. Lewat kejadian rangkaian kejadian tersebut, pembaca bisa terkenang ke masa lalu dan memproyeksikannya.
Trus, ini mungkin bakalan cocok buat kita yang suka nunda-nunda. Yap, menyelesaikan naskah! Naskah kalau baru kelar separuh, ya nggak akan jadi apa-apa, nggak bisa dinilai. Makanya selesaikan naskah! Naskah yang udah selesai, bisa dikasihkan ke keluarga atau temen untuk dimintain pendapat secara jujur. Kenapa sih harus minta pendapat orang lain, kan malu? Waktu kita baca naskah kita sendiri, itu tuh ya buah pikiran kita sendiri, nggak ada unsur surprise karena kita udah tahu dari awal sampai akhir. Beda kalau orang lain yang baca, mereka bisa menilai bagaimana cara kita menyampaikan cerita atau gampang enggaknya cerita kita dipahami.
Tapi ya tapi, nggak semua pendapat dari orang lain harus kita ikuti. Ambil hal-hal yang sejalan. Terus, jangan lupa untuk ambil jeda dulu sama naskah garapan kita biar kita punya cara pandang yang beda waktu kita balik ketemu sama naskah!
III. Membangun Dunia Cerita
Penulis ibarat dewa atau Tuhan dalam naskah bikinannya. Bagaimana “dunia” bekerja, terutama dalam naskah fantasi, yang nentuin adalah penulis. So, penulis harus membangun dunia itu dengan matang dan konsisten supaya ceritanya solid.
Termasuk, penulisan karakter. Penulis perlu banget untuk bikin biodata selengkap-lengkapnya dari karakter. Jadi, penulis bisa dengan mudah ngebayangin, “kira-kira kalau pas kejadian kayak gini, karakterku bakal ngapain, ya?” Alhasil, karakternya tuh bakalan konsisten dan nggak terlihat jadi 2 orang yang berbeda.
Pembaca bisa tahu saat karakter sedang “dipergunakan”. Memajukan alur itu penting, tapi harus sesuai geraknya dengan karakter masing-masing.”
Kesan: Selama mengikuti kelas online ini, rasanya sangat seru sekali. Saya merasakan pengalaman berbeda lantaran pembicaranya berbahasa Jepang sehingga perlu diterjemahkan terlebih dahulu. Setelah acara berakhir, masih ada sekitar satu jam untuk berdiskusi lebih banyak lagi. Sebagian besar tetap bertahan, entah karena sungkan atau memang masih ingin menyimak diskusi bersama Arai Hisayuki yang zona waktunya lebih maju 2 jam ini. Banyak hal yang dibahas, salah satunya isu pembajakan buku.
